22

 "Selamat ulang tahun ke-22 untuk kedua kalinya, Sa"


Padahal kami sudah menyiapkan segalanya, sekardus buku lama yang sulit dicari dan kue ulang tahun dengan magic candle di atasnya. Bahkan kami sudah mendekor ruangan ini penuh dengan warna hijau seperti taman favoritnya di ujung kota.


"Aku suka angka 22! Cantik! Kesel tau gabisa ngerayain ulang tahunku yang ke-22. Riu, gimana kalo ulang tahunku ke-23 kamu bawain balon angka 22 buat aku? Mau ya, Ri?"


Setelah hampir 3 hari Angkasa menghilang dari kami dan tidak mau membalas pesan yang kami kirimkan, hari ini Angkasa membalas pesanku dan dia bersedia menemui kami untuk merayakan hari ulang tahunnya. Sekarang sudah pukul 11 malam lebih, tapi Angkasa belum juga datang. Kami mulai khawatir dan di saat bersamaan telfonku berdering.


"Riu, aku mau beli alat itu buat menghentikan waktu. Aku mau di umur 22 terus, aku mau kayak gini terus. Pokoknya nanti kita menghentikan waktu bersama, aku takut sendiri kayak di film itu. Kamu mau kan ikut aku?"


Tepat pukul 12 malam, kami sudah tiba di rumah sakit. Aku hanya diam mematung saat Kala (kakak laki-laki Angkasa) berbicara dengan kami. Kakiku mulai melemas dan air mata sudah tidak bisa tertahan. Dari sekian banyak kalimat yang diucapkan oleh Kala, satu kalimat yang bisa ku dengar hanya "Angkasa udah gaada"


"Kamu curang, Sa. Kenapa kamu menghentikan waktu tanpa mengajakku?"

Postingan populer dari blog ini

Jarak

🐊

Lepas